12:23:42 PM idris_khaulani2001: lieur..........
12:24:55 PM tan malaka: naha?
12:25:43 PM idris_khaulani2001: nya lieur..
12:25:49 PM tan malaka: yyyye
12:26:07 PM idris_khaulani2001: HAYANG KAWIN...............
12:26:27 PM tan malaka: kawin atuh
12:27:26 PM tan malaka: 300 K oge cukup.. jeung budah sma... kawin mah
12:27:46 PM tan malaka: lamun nikah mah 500 K da kudu daptar KAU
12:27:48 PM tan malaka: KUA
12:27:51 PM idris_khaulani2001: =))
12:27:56 PM idris_khaulani2001: OK SALAH,.. HAYANG NIKAH......
12:32:10 PM tan malaka: sok atuh
Thursday, February 28, 2008
kumpulan Chat vol. 1
12:59:07 AM tan malaka: wekwew
12:59:17 AM tan malaka: kuring keur nonton film horor yeuuh
12:59:29 AM idris_khaulani2001: :-O
12:59:34 AM idris_khaulani2001: >:)
12:59:38 AM idris_khaulani2001: O:-)
12:59:55 AM tan malaka: jadi sieun
1:00:01 AM tan malaka: ;))
1:00:12 AM idris_khaulani2001: :-S
1:00:41 AM tan malaka: tapi aya adegan sexna
1:00:58 AM idris_khaulani2001: =))
1:01:10 AM idris_khaulani2001: nt mah nungguan adegan eta hungkul...
1:01:22 AM tan malaka: teu kahaja
[SENSORED]
1:01:43 AM idris_khaulani2001: #:-S
1:01:51 AM idris_khaulani2001: teu kabita....
1:02:00 AM tan malaka: tong kabita ku gambar
1:02:18 AM idris_khaulani2001: yup..
1:02:29 AM idris_khaulani2001: tapi foto kirimkeun.. ;))
1:02:42 AM tan malaka: mangga... tapi dipilarian heula numawi
1:03:59 AM idris_khaulani2001: biarkan aku menjaga perasaan ini,..
1:04:13 AM idris_khaulani2001: menja segenap cinta yg telah diberi..
1:05:03 AM tan malaka: perasaan adalah ilusi terdalam dari kebenaran semu
1:05:28 AM idris_khaulani2001: tapi kita tetap hidup dengan perasaan itu..
1:06:28 AM tan malaka: sedangkan cinta adalah tiket untuk membunuh semua kemunafikan biarkanlah sejenak kita takhtakan nafsu dalam bingkai kejujuran yang terpahit
1:08:15 AM idris_khaulani2001: memang sangat ironik sekali sebuah rasa dan sebentuk harapan,
1:13:13 AM tan malaka: yup
1:17:02 AM tan malaka: naon sih
1:17:27 AM idris_khaulani2001: wex,.. urang ngrim pic,.. teu katinggali??
1:17:43 AM tan malaka: teu?
1:17:47 AM tan malaka: keudeeung atuh
12:59:17 AM tan malaka: kuring keur nonton film horor yeuuh
12:59:29 AM idris_khaulani2001: :-O
12:59:34 AM idris_khaulani2001: >:)
12:59:38 AM idris_khaulani2001: O:-)
12:59:55 AM tan malaka: jadi sieun
1:00:01 AM tan malaka: ;))
1:00:12 AM idris_khaulani2001: :-S
1:00:41 AM tan malaka: tapi aya adegan sexna
1:00:58 AM idris_khaulani2001: =))
1:01:10 AM idris_khaulani2001: nt mah nungguan adegan eta hungkul...
1:01:22 AM tan malaka: teu kahaja
[SENSORED]
1:01:43 AM idris_khaulani2001: #:-S
1:01:51 AM idris_khaulani2001: teu kabita....
1:02:00 AM tan malaka: tong kabita ku gambar
1:02:18 AM idris_khaulani2001: yup..
1:02:29 AM idris_khaulani2001: tapi foto kirimkeun.. ;))
1:02:42 AM tan malaka: mangga... tapi dipilarian heula numawi
1:03:59 AM idris_khaulani2001: biarkan aku menjaga perasaan ini,..
1:04:13 AM idris_khaulani2001: menja segenap cinta yg telah diberi..
1:05:03 AM tan malaka: perasaan adalah ilusi terdalam dari kebenaran semu
1:05:28 AM idris_khaulani2001: tapi kita tetap hidup dengan perasaan itu..
1:06:28 AM tan malaka: sedangkan cinta adalah tiket untuk membunuh semua kemunafikan biarkanlah sejenak kita takhtakan nafsu dalam bingkai kejujuran yang terpahit
1:08:15 AM idris_khaulani2001: memang sangat ironik sekali sebuah rasa dan sebentuk harapan,
1:13:13 AM tan malaka: yup
1:17:02 AM tan malaka: naon sih
1:17:27 AM idris_khaulani2001: wex,.. urang ngrim pic,.. teu katinggali??
1:17:43 AM tan malaka: teu?
1:17:47 AM tan malaka: keudeeung atuh
Wednesday, February 27, 2008
Pemekaran Wilayah: Nasi Basi Kenduri Demokrasi
[Belum selesai]
http://www.hupelita.com/cetakartikel.php?id=45198
http://www.kotabogor.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3931&Itemid=101
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0512/14/jab06.html
http://radar-bogor.co.id/?ar_id=NjM5OQ==&click=NQ==
http://kaskus.us/archive/index.php/t-407685.html
http://penataanruang.pu.go.id/detail_b.asp?id=438
http://sensornasional.blogspot.com/2008/02/wacana-politik-bingungkan-masyarakat.html
maaf tidak semua hasil pencaharian dari paman google bisa ditampilkan di sini.
Kenduri demokrasi di Jawa Barat dan Kabupaten Bogor setidaknya memaksa saya kembali menulis disini. Dengan segala keterbatasan kemampuan [catat: bukan karena keterbatasan infromasi] saya mencoba menuliskan beberapa pokok pemikiran.
1. Isu dan tema kampanye yang berkembang
Beragam isu yang kembang dalam proses pemilihan kepala daerah. Setidaknya ada beberapa isu yang sebenarnya relatif sama. Pertama, akan mendukung ide pemekaran wilayah. Kedua, Meningkatkan Pendidikan dan Kesehatan. Ketiga, Perda Syariah dll. Sejauh padangan penulis, belum ada yang benar-benar secara kongkrit memberikan targetan-targetan yang bisa diukur. Entah karena takut jikalau parameter keberhasilan nyata. Maka masyarakat akan mencermati dan mengawasi, apalagi didukung oleh anggota dewan yang cerdas dan memiliki keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
Jika dimungkinkan penulis ingin menitipkan parameter-parameter keberhasilan yang bisa diajukan kepada masyarakat dalam kampanye dan direalisasikan atau masyarakat menuntut secara bersama dalam sebuah kontrak atau komitmen politik. Diantaranya adalah
1. Memenuhi keharusan 20% Anggaran untuk Pendidikan dengan mengecualikan pendidikan yang bersifat kedinasan, biaya birokrasi, proposal pendidikan ormas. Dengan memprioritaskan pendidikan gratis sampai dengan SMU, Peningkatan kapasitas guru dan karyawan sekolah, membangun sistem RAPBS [Rancangan Anggaran Penerimaan dan Belanja Sekolah] partsipatif antara Guru dan Orang Tua, Memangkas birokrasi rente yang bekembang di Dinas Pendidikan dan Depag [bagian pendidikan], mengefektifkan KKG dalam mebuat buku pelajaran [selama ini mereka diperdaya oleh penerbit-penerbit], memperjelas posisi lembaga pendidikan non negeri seperti pesantren dan lain-lain
2. Membuat cetak biru arah pendidikan yang jelas untuk minimal 25 tahun
3. Pemenuhan Jaminan Kesehatan dan Sosial sebagai Kewajiban Negara dalam kontek HAM konvenan Ekosob.
4. Tanah untuk Petani
5. UMR tidak dihitung atas kebutuhan seorang manusia hidup dalam keterbatasan dalam satu bulan
2. Realitas yang berkembang di lapangan: Korupsi Kampanye
lebih dari 5 bulan yang lalu dari tanggal sekarang, sudah banyak bertebaran poster, baligho, spanduk, dan kampanye terselubung terjadi. hal ini setidaknya terjadi di Kab. Bogor dimana Penulis bisa melihat dengan kepala sendiri, bagaimana benda yang tidak seharusnya dipasang waktu itu mengotori pemandangan dengan TIDAK SATUPUN DISTEMPEL OLEH DISPENDA.
Hal ini bisa diasumsikan bahwa mereka tidak membayar pajak kepada negara dan melakukan kampanye di luar waktu yang telah ditetapkan. Bayangkan berapa banyak pemasukan yang harusnya diperoleh negara untuk kembali didistribusikan sebagai dana pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, menggaji aparat, polisi, tentara, dokter, membangun jalan dll di korupsi oleh calon-calon Kepala Daerah tersebut dengan cara tidak membayar pajak reklame. Nasionalisme macam apa yang ada di hati sanubari mereka, inikah wajah calon Pemimpin. Bayangan Pemda Depok merugi sampai dengan Rp. 305 juta akibat atribut kampanye tidak membayar pajak [http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Jabedetabog&rbrk=&id=37264&detail=Jabedetabog] dengan asumsi 17 Kabupaten dan 10 Kota saja maka 27 X Rp. 305 Jt sama dengan 8,235 Milyar Rupiah uang pajak yang seharusnya diterima oleh negara dari pajak diluar waktunya.
Belum lagi kampanye yang menggunakan biaya perjalan dinas. Selama ini tidak ada yang mencermati dengan jelas dalam sebuah bentuk penelitian yang ilmiah, sehinggar masyarakat bisa memperoleh tabulasi antara penggunaan dana perjalan dinas, bantuan pejabat dan materi kampanye yang dilakukan. Masyarakat selalu saja disodorkan informasi yang tak lebih dari upaya mendiskreditkan pasangan lawan politik tanpa didukung dengan data yang akurat. Entah itu merupakan kekurangan yang perlu diperbaiki atau merupakan ketidakmampuan tim sukses dalam melakukan kerja-kerja yang didukung dengan data yang akurat dan penelitian yang mengikuti kaidah-kaidah penelitian ilmiah.
3. Desentralisasi kekuasaan tidak sama dengan pemekaran wilayah
sebuah kebohongan publik yang terus menerus terjadi di ranah kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini. Alasan pemerataan pembangunan, akses msyarakat terhadap pembuatan keputusan yang berimplikasi langsung maupun tidak langsung terjadi.
Partai politk baik yang berkuasa maupun gurem tidak memperhatikan pendidikan politik bagi masyarakat
4. Dana pemekaran wilayah: Korupsi, Birahi berkuasa, Korupsi,dan Pemborosan
5. Menempatkan pendidikan sebagai pilar utama perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara
6. Guru sebagai kekuatan politik
7.
http://www.hupelita.com/cetakartikel.php?id=45198
http://www.kotabogor.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3931&Itemid=101
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0512/14/jab06.html
http://radar-bogor.co.id/?ar_id=NjM5OQ==&click=NQ==
http://kaskus.us/archive/index.php/t-407685.html
http://penataanruang.pu.go.id/detail_b.asp?id=438
http://sensornasional.blogspot.com/2008/02/wacana-politik-bingungkan-masyarakat.html
maaf tidak semua hasil pencaharian dari paman google bisa ditampilkan di sini.
Kenduri demokrasi di Jawa Barat dan Kabupaten Bogor setidaknya memaksa saya kembali menulis disini. Dengan segala keterbatasan kemampuan [catat: bukan karena keterbatasan infromasi] saya mencoba menuliskan beberapa pokok pemikiran.
1. Isu dan tema kampanye yang berkembang
Beragam isu yang kembang dalam proses pemilihan kepala daerah. Setidaknya ada beberapa isu yang sebenarnya relatif sama. Pertama, akan mendukung ide pemekaran wilayah. Kedua, Meningkatkan Pendidikan dan Kesehatan. Ketiga, Perda Syariah dll. Sejauh padangan penulis, belum ada yang benar-benar secara kongkrit memberikan targetan-targetan yang bisa diukur. Entah karena takut jikalau parameter keberhasilan nyata. Maka masyarakat akan mencermati dan mengawasi, apalagi didukung oleh anggota dewan yang cerdas dan memiliki keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
Jika dimungkinkan penulis ingin menitipkan parameter-parameter keberhasilan yang bisa diajukan kepada masyarakat dalam kampanye dan direalisasikan atau masyarakat menuntut secara bersama dalam sebuah kontrak atau komitmen politik. Diantaranya adalah
1. Memenuhi keharusan 20% Anggaran untuk Pendidikan dengan mengecualikan pendidikan yang bersifat kedinasan, biaya birokrasi, proposal pendidikan ormas. Dengan memprioritaskan pendidikan gratis sampai dengan SMU, Peningkatan kapasitas guru dan karyawan sekolah, membangun sistem RAPBS [Rancangan Anggaran Penerimaan dan Belanja Sekolah] partsipatif antara Guru dan Orang Tua, Memangkas birokrasi rente yang bekembang di Dinas Pendidikan dan Depag [bagian pendidikan], mengefektifkan KKG dalam mebuat buku pelajaran [selama ini mereka diperdaya oleh penerbit-penerbit], memperjelas posisi lembaga pendidikan non negeri seperti pesantren dan lain-lain
2. Membuat cetak biru arah pendidikan yang jelas untuk minimal 25 tahun
3. Pemenuhan Jaminan Kesehatan dan Sosial sebagai Kewajiban Negara dalam kontek HAM konvenan Ekosob.
4. Tanah untuk Petani
5. UMR tidak dihitung atas kebutuhan seorang manusia hidup dalam keterbatasan dalam satu bulan
2. Realitas yang berkembang di lapangan: Korupsi Kampanye
lebih dari 5 bulan yang lalu dari tanggal sekarang, sudah banyak bertebaran poster, baligho, spanduk, dan kampanye terselubung terjadi. hal ini setidaknya terjadi di Kab. Bogor dimana Penulis bisa melihat dengan kepala sendiri, bagaimana benda yang tidak seharusnya dipasang waktu itu mengotori pemandangan dengan TIDAK SATUPUN DISTEMPEL OLEH DISPENDA.
Hal ini bisa diasumsikan bahwa mereka tidak membayar pajak kepada negara dan melakukan kampanye di luar waktu yang telah ditetapkan. Bayangkan berapa banyak pemasukan yang harusnya diperoleh negara untuk kembali didistribusikan sebagai dana pendidikan, kesehatan, jaminan sosial, menggaji aparat, polisi, tentara, dokter, membangun jalan dll di korupsi oleh calon-calon Kepala Daerah tersebut dengan cara tidak membayar pajak reklame. Nasionalisme macam apa yang ada di hati sanubari mereka, inikah wajah calon Pemimpin. Bayangan Pemda Depok merugi sampai dengan Rp. 305 juta akibat atribut kampanye tidak membayar pajak [http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=Jabedetabog&rbrk=&id=37264&detail=Jabedetabog] dengan asumsi 17 Kabupaten dan 10 Kota saja maka 27 X Rp. 305 Jt sama dengan 8,235 Milyar Rupiah uang pajak yang seharusnya diterima oleh negara dari pajak diluar waktunya.
Belum lagi kampanye yang menggunakan biaya perjalan dinas. Selama ini tidak ada yang mencermati dengan jelas dalam sebuah bentuk penelitian yang ilmiah, sehinggar masyarakat bisa memperoleh tabulasi antara penggunaan dana perjalan dinas, bantuan pejabat dan materi kampanye yang dilakukan. Masyarakat selalu saja disodorkan informasi yang tak lebih dari upaya mendiskreditkan pasangan lawan politik tanpa didukung dengan data yang akurat. Entah itu merupakan kekurangan yang perlu diperbaiki atau merupakan ketidakmampuan tim sukses dalam melakukan kerja-kerja yang didukung dengan data yang akurat dan penelitian yang mengikuti kaidah-kaidah penelitian ilmiah.
3. Desentralisasi kekuasaan tidak sama dengan pemekaran wilayah
sebuah kebohongan publik yang terus menerus terjadi di ranah kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini. Alasan pemerataan pembangunan, akses msyarakat terhadap pembuatan keputusan yang berimplikasi langsung maupun tidak langsung terjadi.
Partai politk baik yang berkuasa maupun gurem tidak memperhatikan pendidikan politik bagi masyarakat
4. Dana pemekaran wilayah: Korupsi, Birahi berkuasa, Korupsi,dan Pemborosan
5. Menempatkan pendidikan sebagai pilar utama perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara
6. Guru sebagai kekuatan politik
7.
Sunday, December 23, 2007
Para Kepala Sekolah yang Menghilang
Kira-kira setahun yang lalu. Salah seorang pengrus dewan sekolah "curhat" jikalau ia di peras oleh seorang wartawan yang biasa di panggil "Baron", entah nama aslinya siapa, yang pasti anggota Forum Komunikasi Wartawan........... yang beralamat di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor di Cibinong.... hiks..
Setelah bertanya sana sini dari mulai tukang tembok, penjaga sekolah, bendahara proyek, ketua Dewan Sekolah sampai dengan Guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut, ternyata kasusnya demikian:
karena satu lokal SDN P*l*sari Kec. ****ruk itu direnovasi. Seng yang digunakan sebagai atap bangunan tersebut dibongkar dan tidak digunakan lagi akan dijual.... [ to be continued ]
Setelah bertanya sana sini dari mulai tukang tembok, penjaga sekolah, bendahara proyek, ketua Dewan Sekolah sampai dengan Guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut, ternyata kasusnya demikian:
karena satu lokal SDN P*l*sari Kec. ****ruk itu direnovasi. Seng yang digunakan sebagai atap bangunan tersebut dibongkar dan tidak digunakan lagi akan dijual.... [ to be continued ]
Panduan Cara-Cara Korupsi Dana BOS
Berikut ini adalah panduan bagaimana mengkorupsi dana BOS, tidak terlalu valid, tak selamanya berhasil, pasti menambah dosa. Kunci dari keberhasilan korupsi dana BOS adalah kuatnya syarekat sesat antara pengelola dana BOS [ Kepala Sekolah dan Guru tertentu] dengan pihak Dinas Pendidikan, minimnya pengetahuan dan akses masyarakat terhadap pengelolaan dana BOS.
1. Minimalisir akses informasi mengenai pengajuan dana BOS, besaran dana BOS, dan peruntukan dana BOS.
2. Bangunlah sebuah tim yang solid, setidaknya dalam melakukan kejahatan berjamaah, hal ini mutlak diperlukan.
3. Berikan akses kecil dalam pengelolaan dan sedikit bantuan financial bagi guru yang kritis. [ hal ini cukup efektif baik terhadap guru tetap mapun guru honor].
4. Tunjukan kepada Dewan Sekolah, bahwa anda adalah Bos dalam pengelolaan dana BOS. Beri mereka 1 atau 2 juta sebagai tanda terima kasih telah menandatangani berkas palsu yang telah anda buat.
5. Buat komunikasi yang erat dengan penagwas di tingkat kecamatan atau kabupaten. Tokh mereka juga mengharapkan bisa berjamaah dalam melakukan kejahatan ini.
6. Tunjuk pemborong / developer dalam hal pembangunan fisik. utamakan kawan atau saudara. setidaknya masih ada kemungkinan pemasukan dari kas feed back pemborong. Uang anda bertambah banyak.
7. Framekan kepada orang tua dan masyarakat bahwa untuk cerdas itu tidak gratis.
8. Buatlah anggaran ganda.
9. Selain melakukan markup anda masih juga dapat meminta fee dari penyedia jasa dan barang keperluan BOS.
Modus yang bisa digunakan selain mengkorupsi dana BOS antara lain:
1. pungutan bayaran uang bangunan
2. uang buku, uang seragam dan
3. uang bangku
[manual ini belum lengkap] selamat berkorupsi semoga Iblis, setan beserta kita di neraka yang paling panas dan dalam.
1. Minimalisir akses informasi mengenai pengajuan dana BOS, besaran dana BOS, dan peruntukan dana BOS.
2. Bangunlah sebuah tim yang solid, setidaknya dalam melakukan kejahatan berjamaah, hal ini mutlak diperlukan.
3. Berikan akses kecil dalam pengelolaan dan sedikit bantuan financial bagi guru yang kritis. [ hal ini cukup efektif baik terhadap guru tetap mapun guru honor].
4. Tunjukan kepada Dewan Sekolah, bahwa anda adalah Bos dalam pengelolaan dana BOS. Beri mereka 1 atau 2 juta sebagai tanda terima kasih telah menandatangani berkas palsu yang telah anda buat.
5. Buat komunikasi yang erat dengan penagwas di tingkat kecamatan atau kabupaten. Tokh mereka juga mengharapkan bisa berjamaah dalam melakukan kejahatan ini.
6. Tunjuk pemborong / developer dalam hal pembangunan fisik. utamakan kawan atau saudara. setidaknya masih ada kemungkinan pemasukan dari kas feed back pemborong. Uang anda bertambah banyak.
7. Framekan kepada orang tua dan masyarakat bahwa untuk cerdas itu tidak gratis.
8. Buatlah anggaran ganda.
9. Selain melakukan markup anda masih juga dapat meminta fee dari penyedia jasa dan barang keperluan BOS.
Modus yang bisa digunakan selain mengkorupsi dana BOS antara lain:
1. pungutan bayaran uang bangunan
2. uang buku, uang seragam dan
3. uang bangku
[manual ini belum lengkap] selamat berkorupsi semoga Iblis, setan beserta kita di neraka yang paling panas dan dalam.
PR Calon Bupati Bogor dan Gubernur Jawa Barat
Sebenarnya tidak tepat juga jika diasumsikan benar-benar PR atau pekerjaan rumah. Mungkin lebih tepat jika dikatakan kutukan bagi calon pemimpin daerah. Hal ini disebabkan tidak pernah ada sesuatu persoalan yang terselesaikan dengan baik. Berikut ini sejumlah dosa besar manajemen birokrasi kabupaten Bogor dan Jawa Barat.
1. Pengelolaan keuangan daerah yang tertutup, sehingga perencanaan dan penggunaan tidak transparan.
2. Marjinalisasi pendidikan kaum Santri, cacat, dan miskin.
3. Korupsi dan penyelewengan dana BOS.
4. Pengangguran di kalangan potensial age.
5. Pencemaran air, tanah dan udara.
6. kapitalisasi dan privatisasi air.
7. Tidak tanggap bencana dan wabah.
8. Milisi paramiliter dan kekerasan beragama
[to be continued]
1. Pengelolaan keuangan daerah yang tertutup, sehingga perencanaan dan penggunaan tidak transparan.
2. Marjinalisasi pendidikan kaum Santri, cacat, dan miskin.
3. Korupsi dan penyelewengan dana BOS.
4. Pengangguran di kalangan potensial age.
5. Pencemaran air, tanah dan udara.
6. kapitalisasi dan privatisasi air.
7. Tidak tanggap bencana dan wabah.
8. Milisi paramiliter dan kekerasan beragama
[to be continued]
Pembelajaran bahasa Sunda Kelas 1 SD
Salam,
Sabtu adalah hari kemerdekaan dari rutinitas pekerjaan. Eit, bukan berarti lepas dari siksaan infotaiment nan kejam dan narsis. Entah mengapa adik kecilku ngadat sedikit bertengkar dengan ibu. Pasti tentang PR pikirku [penjajahan pendidikan tanpa ujung]. Anak kelas satu SD sekarang jumlah buku tulisnya 3 kali lipat jumlah pelajaran... hiks.... pantesan Riu Pulp dan Adelin Lis semakin kaya raya[Pengusaha Nasional, perambah hutan, pesakitan yang bebas [http://www.antara.co.id/arc/2007/12/19/lima- hakim-kasus-adelin-lis-peroleh-penghargaan/] hasil kerja yang tidak becus perselingkuhan Mentri Kehutanan MS Kaban, Kejaksaan, Hakim dan Pengacara Adelin Lis].
kembali ke pokok permasalahan, ternyata adiku tidak bisa mengerjakan PR Mata Plejaran Muatan Lokal wajib Bahasa Sunda ...)*^%^$&%^#$# sebagai Lulusan Jurusan Pendidikan bahasa Daerah di IKIP Bandung / UPI, seketika aku menjadi Program Manager untuk kasus PR yang tidak selesai [adikku tidak mau masuk sekolah kalau PR nya belum selesai]. Kuambil buku PRnya, secara sederhana contoh PRnya sebagai berikut;
- Nyanghareup - nyang - ha - reup
- pacul - pa - cul
- kored - ko - red
sekilas aku melihatnya sebagai PR pemenggalan kata, jadi yang harus dikerjakan adalah melakukan pemenggalan kata, baik kata dasar mapun kata yang berimbuhan. Gilaa........ anak SD kelas 1 di berikan PR seperti itu, pikirku. *(&*&%%#$#$&&%^& dengan nada naik setengah oktaf aku minta buku teks yang dipakainya. &^&%^&$ lebih rumit lagi yang nulis salah seorangnya salah satu dosenku yang tak pernah protes jika bolos kuliah karena demo, lagian nilaiku juga ngal pernah jelek di mata kuliah yang ia ajarkan [narsis mode on]. Masak sih dosenku seceroboh itu memberikan materi seberat itu kepada siswa SD kelas 1.
Setelah membaca tujuan pembelajaran dan materi yang diberikan ternyata aku bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan pembelajaran yang diberian adalah
1. melatih anak menemukan huruf yang sengaja dihilangkan
meureupan meu - r - upan, jadi si anak tinggal mencari huruf vokal u yang dihilangkan
kalapa ka - - apa, si anaka tinggal mencari huruf konsonan l yang dihilangkan.
2. menggabungkan suku kata yang dipisahkan
kebalikan dari materi di atas, hanya saja tidak ada yang dhilangkan, mereka tinggal menggabungkan
dan belajar mengeja kata yang digabungkan dari beberapa suku kata tersebut.
kemudian kubaca juga materi kelas yang ditulis pada catatan. ternyata memang kesalah bermula dari situ. terjadi kesalahan penyusunan Bahan Ajar. Hal ini bisa disebabkan tafsir sesat dari Kurikulum, penyusunan modul tujuan umum pendidikan dan tujuan khusus pendidikan. Setidaknya hal tersebut menunjukan bahwa.
1. Guru tersebut tidak memiliki kemampuan melakukan analisa / telaah buku teks.
2. Guru tersebut tidak memiliki kempuan dalam psikologi pendidikan
3. Guru tersebut tidak memiliki kapasitas untuk mengajar bahasa Sunda.
4. Guru tersebut dipengaruhi faktor ekternal; sehingga tidak konsen dalam mengajar.
Sabtu adalah hari kemerdekaan dari rutinitas pekerjaan. Eit, bukan berarti lepas dari siksaan infotaiment nan kejam dan narsis. Entah mengapa adik kecilku ngadat sedikit bertengkar dengan ibu. Pasti tentang PR pikirku [penjajahan pendidikan tanpa ujung]. Anak kelas satu SD sekarang jumlah buku tulisnya 3 kali lipat jumlah pelajaran... hiks.... pantesan Riu Pulp dan Adelin Lis semakin kaya raya[Pengusaha Nasional, perambah hutan, pesakitan yang bebas [http://www.antara.co.id/arc/2007/12/19/lima- hakim-kasus-adelin-lis-peroleh-penghargaan/] hasil kerja yang tidak becus perselingkuhan Mentri Kehutanan MS Kaban, Kejaksaan, Hakim dan Pengacara Adelin Lis].
kembali ke pokok permasalahan, ternyata adiku tidak bisa mengerjakan PR Mata Plejaran Muatan Lokal wajib Bahasa Sunda ...)*^%^$&%^#$# sebagai Lulusan Jurusan Pendidikan bahasa Daerah di IKIP Bandung / UPI, seketika aku menjadi Program Manager untuk kasus PR yang tidak selesai [adikku tidak mau masuk sekolah kalau PR nya belum selesai]. Kuambil buku PRnya, secara sederhana contoh PRnya sebagai berikut;
- Nyanghareup - nyang - ha - reup
- pacul - pa - cul
- kored - ko - red
sekilas aku melihatnya sebagai PR pemenggalan kata, jadi yang harus dikerjakan adalah melakukan pemenggalan kata, baik kata dasar mapun kata yang berimbuhan. Gilaa........ anak SD kelas 1 di berikan PR seperti itu, pikirku. *(&*&%%#$#$&&%^& dengan nada naik setengah oktaf aku minta buku teks yang dipakainya. &^&%^&$ lebih rumit lagi yang nulis salah seorangnya salah satu dosenku yang tak pernah protes jika bolos kuliah karena demo, lagian nilaiku juga ngal pernah jelek di mata kuliah yang ia ajarkan [narsis mode on]. Masak sih dosenku seceroboh itu memberikan materi seberat itu kepada siswa SD kelas 1.
Setelah membaca tujuan pembelajaran dan materi yang diberikan ternyata aku bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan pembelajaran yang diberian adalah
1. melatih anak menemukan huruf yang sengaja dihilangkan
meureupan meu - r - upan, jadi si anak tinggal mencari huruf vokal u yang dihilangkan
kalapa ka - - apa, si anaka tinggal mencari huruf konsonan l yang dihilangkan.
2. menggabungkan suku kata yang dipisahkan
kebalikan dari materi di atas, hanya saja tidak ada yang dhilangkan, mereka tinggal menggabungkan
dan belajar mengeja kata yang digabungkan dari beberapa suku kata tersebut.
kemudian kubaca juga materi kelas yang ditulis pada catatan. ternyata memang kesalah bermula dari situ. terjadi kesalahan penyusunan Bahan Ajar. Hal ini bisa disebabkan tafsir sesat dari Kurikulum, penyusunan modul tujuan umum pendidikan dan tujuan khusus pendidikan. Setidaknya hal tersebut menunjukan bahwa.
1. Guru tersebut tidak memiliki kemampuan melakukan analisa / telaah buku teks.
2. Guru tersebut tidak memiliki kempuan dalam psikologi pendidikan
3. Guru tersebut tidak memiliki kapasitas untuk mengajar bahasa Sunda.
4. Guru tersebut dipengaruhi faktor ekternal; sehingga tidak konsen dalam mengajar.
Subscribe to:
Posts (Atom)